Rabu, 28 Desember 2011

Ketimpangan Kondisi Masyarakat di Berbagai Daerah


Topik : Kewilayahan Negara dan Wawasan Nusantara
                                                                           
               
                Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara yang dilalui oleh garis khatulistiwa dan terdiri dari 13.487 pulau. Indonesia diapit oleh dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia dan dua samudra yaitu samudra Hindia dan samudra Pasifik.  Berbatasan langsung dengan negara Malaysia, Singapura, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Australia. Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia dengan total penduduk mencapai 237,641,326 menurut survei tahun 2010 lalu (www.bps.go.id).
                Walaupun merupakan negara dengan penduduk terbesar ke empat di dunia, namun penyebaran penduduknya masih belum merata di semua daerah. Berdasarkan survei tahun 2010 ini, lebih dari 50% persen penduduk Indonesia hanya menetap di pulau Jawa dan sisanya menyebar ke pulau-pulau lainnya. Provinsi DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kepadatan penduduk terbanyak sedangkan Provinsi Papua Barat menjadi provinsi dengan jumlah penduduk paling sedikit di Indonesia.
                Permasalahan mengenai adanya persebaran penduduk yang belum merata di daerah berbuntut banyak permasalahan yang timbul. Beberapa contoh masalah yang timbul adalah adanya tingkat kemiskinan yang berbeda, masalah kesehatan, adanya ketimpangan pembangunan, penyediaan lapangan kerja, pengalokasian sumber daya alam dan manusia, masalah pendidikan di daerah pedalaman dan perbatasan.
                Kemiskinan adalah ketidakmampuan suatu individu, kelompok, atau daerah untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti papan, sandang, dan pangan. “Tingkat kemiskinan yang berbeda di daerah tergantung pada pendapatan daerah suatu negara. Ini juga berkaitan dengan tingkat pendistribusian pendapatan nasional. Karena kepadatan penduduk yang tidak merata menyebabkan tingkat pendistribusian pendapatan yang tidak merata pula” (Michael P. Todaro, Perkembangan Ekonomi di Dunia Ketiga). Hal ini menyebabkan adanya kesenjangan ekonomi antara daerah yang tingkat pendistribusian pendapatan nasionalnya bagus dengan daerah yang kurang mendapatkan distribusi pendapatan nasional. Kemiskinan tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan nasional suatu daerah atau negara, namun juga dipengaruhi oleh pendapatan per kapita individu. Jika pendistribusian pendapatan nasional ke suatu daerah berjalan baik dan lancar namun pendapatan per kapita individu tetaplah rendah maka tingkat kemiskinan negara tersebut akan tetap parah dan sulit untuk ditanggulangi dengan baik.
                Kemiskinan juga berhubungan langsung dengan kurangnya penyediaan lapangan kerja oleh pemerintah dan ketimpangan dalam hal pembangunan daerah. Pulau Jawa sebagai pusat pembangunan di Indonesia tentunya memerlukan banyak sumber daya manusia atau tenaga kerja. Sebaliknya di pulau Sumatera dan Indonesia bagian timur sangat kurang penyediaan lapangan kerja karena jarang adanya pembangunan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran menjadi semakin meningkat. Selain itu karena sedikitnya jumlah lapangan pekerjaan di beberapa daerah di Indonesia, banyak orang merantau ke pulau Jawa yang menyebabkan semakin menumpuknya jumlah individu yang menetap di pulau Jawa.
                Selain harus membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa, banyak penduduk di daerah-daerah terbelakang seperti Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat masih harus berjuang melawan kekurangan gizi dan hama penyakit. Di tengah banyaknya rumah sakit di ibu kota Indonesia, anak-anak di daerah tersebut bahkan harus menyerah pada kehidupan karena kekurangan gizi atau terkena penyakit dan tidak mampu berobat ke rumah sakit atau puskesmas karena keterbatasan ekonomi. Walaupun sekarang ini pemerintah semakin concern terhadap masalah kesehatan untuk rakyatnya namun kelihatannya program pemerintah itu masih belum menampakkan hasil yang berarti karena kenyataannya masih banyak balita dan anak-anak yang meninggal karena terkena gizi buruk dan penyakit kekurangan gizi lainnya. Selain masalah kekurangan gizi di beberapa provinsi di Indonesia tersebut, ketiadaan akses pelayan kesehatan dan ketiadaan sanitasi yang baik juga menjadi masalahnya. Jarang ada pembangunan sanitasi disana bahkan ketersediaan air bersih sebagai pendukung sanitasi yang baik pun tidak tersedia. Mereka kekurangan air bersih bahkan untuk kehidupan primer mereka seperti minum dan mandi. Pemerintah seharusnya lebih peduli pada rakyatnya yang jelas-jelas kekurangan seperti itu daripada hanya memikirkan masalah negara seperti korupsi yang tak kunjung habisnya itu.
                Kepadatan penduduk yang tidak merata juga menyebabkan adanya kesenjangan dalam memperoleh pendidikan dan informasi. Tingkat pengaksesan pendidikan dan informasi jelas lebih mudah dilakukan di pulau Jawa daripada di daerah pedalaman ataupun perbatasan. Di pulau Jawa dan sekitarnya mudah mendapatkan pendidikan karena banyaknya sarana sekolah yang dibangun serta dipermudah dengan adanya program pemerintah yaitu BOS ( Bantuan Operasional Sekolah) dan banyaknya program sekolah gratis. Dalam hal pengaksesan informasi juga lebih mudah karena didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti adanya alat komunikasi yang memadai dan sumber listrik yang cukup untuk mendukung berbagai kegiatan manusia.
                Di daerah pedalaman dan perbatasan jelaslah bahwa pendidikan dan informasi adalah hal yang istimewa bagi mereka. Jarang ada sekolah yang dibangun dan tenaga pengajarnya pun tidak cukup jumlahnya. Jikapun ada tenaga pengajarnya, namun taraf hidup mereka berbeda dengan kondisi tenaga pengajar di pulau Jawa dan sekitarnya yang sudah cukup sejahtera. Akses informasi juga cukup sulit karena sangat sedikit daerah di pedalaman dan perbatasan yang sudah terjamah oleh listrik negara. Bagaimana mereka dapat maju jika pendidikan dan informasi saja sulit mereka dapatkan ?.
                Hal ini tentu saja berdampak pada proses pengalokasian sumber daya alam masing – masing daerah. Sumber daya alam alam disini bisa bermacam-macam jenisnya. Contohnya pertambangan, pertanian, dan perkebunan. Semakin maju suatu daerah maka pengoptimalisasian suatu sumber daya alam juga akan semakin baik. “Rendahnya produktivitas sumber daya tidak hanya disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk dibandingkan dengan luas tanah yang tersedia, tetapi juga karena teknologi yang digunakan masih rendah bahkan primitif”(Michael P. Todaro, Perkembangan Ekonomi di Dunia Ketiga).
                Dengan adanya berbagai masalah yang ada yang disebabkan karena tingkat persebaran penduduk yang tidak merata di Indonesia, seharusnya pemerintah lebih berupaya untuk mencari jalan keluar agar masalah ini tidak berlarut – larut sehingga menyebabkan kondisi masyarakatnya semakin miskin dan terpuruk. Mungkin salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan rutin mengadakan program transmigrasi atau bedol desa. Namun program transmigrasi ke daerah – daerah juga harus dibarengi dengan adanya pembangunan sarana dan prasarana yang memadai sehingga masyarakat tidak merasa enggan untuk melakukan transmigrasi karena di daerah yang baru mereka juga bisa hidup dengan nyaman, aman, dan memadai.
                Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan pembenahan segala bentuk pembangunan di daerah pedalaman dan perbatasan agar tidak ada lagi kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial yang terjadi.

Referensi :

Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga.
www.bps.go.id [diakses 20 Desember 2011]